Sebuah Konsep yang terbukti mampu mengalahkan Facebook

Salah satu situs jejaring sosial yang terkenal dan paling banyak diminati adalah situs jejaring sosial Facebook. Sejak Facebook mampu mengalahkan Google di kandangnya sendiri (US), dunia seolah hampir tak percaya. Bagaimana mungkin si raksasa Google bisa dikalahkan dalam hal unique visitornya oleh sebuah situs buatan 'anak baru kemarin' alias orang biasa ?

Ya, Facebook memang telah menjadi sebuah fakta di bunia internet (khusus media jejaring sosial) yang tidak terbantahkan. Terlepas dari masalah privacy dan lain-lain, Facebook terus melaju mantap dengan target untuk mengalahkan Google di tingkat dunia (dalam kaitannya dengan jumlah pemakai baru).

Namun secara diam-diam, di belahan dunia lain yang cukup terpisah dari hiruk pikuk internet global yang didominasi 'big player' (pemain besar semacam Google dan Yahoo), ternyata ada satu situs yang dari sisi kualitas yang lain mampu mengalahkan Facebook. Tencent adalah situs jejaring sosial ala China yang berbeda format (konsep atau metode) dengan Facebook. Kalau Baidu menempuh konsep yang mirip Google dan cenderung 'copy-paste' konsep, maka Tencent mampu tampil beda dari pesaingnya di sektor 'social network' (jejaring sosial) ini.

Kalau Facebook memiliki konsep jejaring sosial pertemanan yang riil maka Tencent berisi jaringan sosial virtual. Di situs ini (Tencent) orang didorong untuk membuat karakter virtual dirinya sendiri dan berinteraksi untuk akhirnya memperjualbelikan barang-barang virtual di dunia maya (internet). Barang virtual seperti games, hewan peliharaan virtual, dan ring tone. Tencent pada dasarnya adalah sebuah situs yang mendistribusikan program pengirim pesan instant (instant messenger), namun telah berkembang menjadi sebuah komunitas besar berbahasa China yang memiliki jumlah aktive usernya lebih besar daripada Facebook. (Data tahun 2010 : Facebook memiliki visitor 519juta, sedang Tencent memiliki active user 523juta orang).



Satu pelajaran positif yang dapat kita ambil dari fakta atau kenyataan ini, yaitu : mempertahankan budaya dan atau tradisi bangsa sendiri sebagai wujud tingginya rasa nasionalisme ternyata mampu mengalahkan format atau konsep Facebook sebagai suatu sarana untuk membina serta menjalin upaya komunikasi antar sesama anak bangsa lewat dunia maya (situs jejaring sosial).

Satu sarana untuk introspeksi diri serta membangkitkan motivasi adalah pertanyaan berikut : "Bagaimana dengan negara kita tercinta ini ? Adakah insan-insan bangsa Indonesia yang berani dan atau mampu mempraktekkan atau mengaplikasikan suatu 'format/konsep Indonesia asli' dalam sebuah media jejaring sosial ?" Mampukah kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri ?

Comments

Popular posts from this blog

Mempercepat Download Menggunakan IDM

Perbedaan Seri Windows 8

Ubuntu Skin For Windows 7